Tampilkan postingan dengan label My Experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Experience. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Oktober 2012

Cerita Kelahiran Putriku

Hampir 2 tahun rasanya aku gak posting apa pun di blog ini. Sebenarnya banyak sekali cerita yang ingin aku tuangkan... Senangnya hatiku, aku kini memiliki seorang putri kecil yang lucu. Alhamdulilah atas karunia Allah yang memberiku kesempatan untuk memiliki seorang anak yang kuberi nama Mahira Danish Kurnia. Mahira berarti mahir atau cakap. Danish berarti pengetahuan atau bijak. Jadi aku berharap anakku nanti bisa menjadi wanita yang pandai dalam pengetahuan. Bukan hanya pengetahuan sosial tapi juga agama. Kurnia aku ambil dari nama belakang suamiku. Hari rabu tanggal 26 September yang lalu, putri kecilku harus dipangkas rambutnya sampai gundul, tepat satu bulan umurnya. Senang melihat anakku tumbuh sehat. Sekali minum saja sekarang sudah bisa menghabiskan susu 60 ml. Beratnya pun sudah 4 kg lebih. Kalau nggendong cukup lama udah terasa bahu seperti mau copot, padahal orang-orang bilang aku gak boleh angkat berat dulu karna habis operasi caesar.

Operasi ... Ini salah satu peristiwa menegangkan sekaligus membahagiakan dalam hidupku. Menegangkan karna sesungguhnya aku ragu dan takut, membahagiakan karna sebentar lagi aku akan bertemu dengan putri tercinta. Berawal pada tanggal 12 Agustus 2012, aku mengeluarkan bercak darah, aku pikir aku akan melahirkan, padahal tanggal perkiraan kelahiran 20 Agustus 2012. Tapi setelah konsultasi dengan bidan, ternyata belum waktunya. Pada bulan itu bertepatan dengan bulan ramadhan, setelah 20 hari sebelumnya aku puasa, akhirnya aku gak bisa puasa lagi. Pada hari Jumat 17 Agustus aku mulai merasakan sakit yang teratur, tapi bukan mulas di perut, tepatnya di pinggang. Semalaman aku gak bisa tidur karna sakit, tapi aku bisa tahan. Sampai hari minggu pagi, semua anggota keluarga merayakan hari idul fitri, aku pun masih sempat silaturahmi sama suamiku, tapi ya Tuhan.. pinggang tambah sakit sampai jalan aja susah. Apalagi semalaman aku gak bisa tidur lagi, dan masih berlanjut ke malam selanjutnya aku pun gak bisa tidur. Kalau dihitung, aku udah 3 hari 3 malam gak tidur. Senin pagi tanggal 20 Agustus, ini tanggal perkiraan aku lahiran, jam 6 pagi aku dibawa ibuku ke bidan. Di perjalanan aku pikir udah bukaan 5, eh ternyata setelah diperiksa masih buka 1. Ya Allah... sebegini lamanya dan sakitnya ternyata masih buka 1. Akhirnya pulang deh, dan di rumah, sakitnya tambah bukan main rasanya, tapi yang aku herankan kenapa yang sakit banget pinggang sih, kalau perutnya sih sakitnya biasa aja, aku sama sekali gak mengeluhkan soal perut. Ibu, nenek, budhe, dan suamiku bergantian mijitin pinggangku, eh akunya udah gak tahan akhirnya nangis deh. Jam 10 aku di bawa ke puskesmas karna bidannya lagi pergi, maklumlah hari raya... di puskesmas ada satu bidan yang jaga dan langsung diperiksa baru buka 2, aku pikir kok lama banget ya bukanya. Bidannya bilang ntar sore diperiksa lagi. Aku sih udah gak mau pulang, cape bolak-balik terus apalagi ini pinggang udah ajubilah sakitnya. Sekitar jam 4 sore aku diperiksa lagi dan tau apa hasilnya... tetep buka 2! Ya Allah, selama 6 jam macet di bukaan 2. Aku pikir udah buka 8! Akhirnya aku udah lemes, kami memutuskan operasi.

Mulailah bidan puskesmas menghubungi rumah sakit yang biasa aku datangi untuk USG, tapi karna hari itu hari raya, dua dokternya gak ada! Aku dan keluargaku jadi bingung. Kemudian bidannya usul ke rumah sakit lain, satu-satunya rumah sakit bersalin yang ada di kotaku. Setelah dihubungi ternyata dokternya pun gak ada, tapi nanti malam baru pulang. Ya Allah! Aku masih aja nangis-nangis karna sakit karna bingung pula. Karna gak punya pilihan lain, terpaksa aku pilih rumah sakit yang kedua itu. Sampai di rumah sakit, aku diperiksa dalam lagi, sakitnya ya... ketika diperiksa ya tetep aja buka 2. Padahal dari awal keluarga udah minta operasi, tapi karna aku bisa lahiran normal, akhirnya melalui telpon, dokter menyarankan supaya aku diinduksi atau bahasa umumnya dipacu atau dirangsang. Dan kalian tau gimana rasanya dipacu? Astaga sakitnya booo... dan yang aku herankan dari awal kenapa yang sakit terus aja di bagian pinggang? Kalau bagian perut aku masih bisa tahan. Ibuku terus aja mijitin pinggangku, dan suamiku mulai ngurusin berkas operasi sama bidannya. Setelah cukup lama dipacu, aku diperiksa lagi dan tahu buka berapa... masih buka 4! Akhirnya mulailah aku dipersiapkan untuk operasi pukul 10 malam. Saat masuk ruang operasi aku masih merasakan sakit yang amat sangat, sampai akhirnya, dokter anestesi menyuntikkan obat bius di punggungku, aku merasa hangat dan hilanglah sakit di pinggangku itu... sampai tirai kecil dipasang di atas dadaku, aku belum tau muka dokter kandungan yang akan mengeluarkan bayiku itu. Tau-tau ada perawat yang menggendong bayi berjalan di sampingku lalu masuk ke suatu ruangan, dan bayi itu menangis. Itukah anakku? Aku tersenyum, selamat datang sayang...

Operasi sudah usai, aku dibawa ke ruang pemulihan, dan gak nyangka ketemu teman sekolahku dulu yang sekarang kerja sebagai bidan di RS itu. Rasa dingin belum juga hilang dari ruang operasi sampai di ruang ini. Hausnyaaa bukan main, tapi aku baru diberi minum pukul 11 esok siang. Hari selasa sore sekitar pukul 4, aku dipindah ke kamar perawatan disambut oleh isak tangis ibuku, di sana udah ada ayah, suami, dan ibu mertuaku. Setelah ngobrol sebentar, bayiku diberikan padaku. Ya Allah... lucunya! Alhamdulilah, terima kasih ya Allah telah menganugerahkan putri kecil yang manis...  beratnya 3400 gram dengan panjang 53 cm, cukup gede juga kamu nak! Pipinya tembem dan bibir atasnya itu lho, persis deh kayak bapaknya, hehe. 4 hari mendekam di rumah sakit, hari kamis siang aku udah boleh pulang dan disambut meriah sama nenek di rumah. Malem harinya, saudara-saudaraku banyak yang dateng. Dan entahlah... ketika ketemu sama banyak orang kenapa aku jadi malu karna gak bisa lahiran normal, tapi ya udahlah semua udah terjadi, mungkin emang udah takdirku harus begini. Tapi aku berharap suatu hari nanti ketika Allah masih memberiku kesempatan untuk memiliki putra lagi, aku ingin bisa lahiran normal, istilahnya VBAC (Vaginal Birth After Caesar). Rasanya sampai sekarang belum puas kalau belum bisa lahiran normal. Mungkin buat orang lain, caesar adalah hal biasa, namun bagiku tetep aja aku merasa aneh dan menyisakan perasaan ganjil yang membekas dan belum hilang sampai sekarang. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang mudah lahiran normal. Baru 3 jam dari bukaan 1 udah lengkap, cepet banget prosesnya. Sedangkan aku kesakitan 3 hari dan 12 jam lebih macet di bukaan 2. Terkadang aku menyesal kenapa aku kurang bersabar dan tidak berjuang lagi untuk lahir normal. Tapi kalau mengingat lamanya sakit yang kurasa, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi... Ampuni aku ya Allah...

Dan terjadilah peristiwa mengerikan di kamar mandi dengan lantai berlumur darah pada hari minggu, satu minggu sebelum acara satu bulanan putriku...

Sabtu, 25 Desember 2010

Pengalaman Buruk

Heran, kenapa aku enggan banget kumpul sama orang yang sok galak di depan orang lain? Nah, orang macam begini sering aku jumpai saat acara diklat di sekolah dulu. Pengalaman pertama saat diklat PMR di SMP. Heraaan banget! Kenapa sih orang-orang yang mengaku sebagai senior itu berlagak kayak preman?!

Duh, aku kenapa jadi sewot begini ya.. Hmm.. Tapi tapi tapi.. Hal itu menjengkelkan, bukan? Gimana nggak? Tujuan sama pelaksanaannya beda banget. Coba kita cerna dari namanya, DIKLAT, kependekan dari pendidikan dan latihan. Yang pertama, pendidikan itu berupa pemberian materi yang terkait. Yang kedua, latihan yang berupa kegiatan yang sudah dipelajari. Misal kalo PMR, ada latihan baris-berbaris dan P3K. Nah, kalo ditanya, kenapa senior harus berlagak judes saat bertanya, mereka menjawab kalo itu latihan mental supaya tegar. Eh, btw, emang begitu ya caranya supaya mental kita terus mengembang ga melempem kayak kerupuk yang kena air? Ckckck.. Ada2 aja!

Aku pikir itu bukan cara yang tepat. Aku beranggapan itu hanya cara agar para senior mendapat hormat. Bagaimana bisa cara tersebut memperkuat mental? Bukankah malah memperkerut mental? Siapa sih yg merasa nyaman saat dimarahi apalagi sama kakak kelas yang sok galak!

Oke akan aku beberkan sikap para senior. Mereka bertanya dengan galak dan menyuruh pergi tanpa kasihan. Mereka berdiri dengan gagahnya saat aku merangkak di rumput. Mereka memarah-marahi aku saat aku ga bisa menjawab salam. Mereka menyuruh mencari kain biru di kuburan. Ampun deh, jengkel banget! Dan yang lebih menjengkelkan lagi, mereka tuh teman seangkatanku. Kebayang kan gimana sebalnya!

Pengalaman kedua saat aku ikut diklat teater di SMA. Mereka ngasih tugas untuk minta tanda tangan kepada para senior satu persatu. Dan kesalnya, tiap minta tanda tangan pasti dimarah-marahi dulu dan disuruh-suruh seperti babu. Kami para yunior baru boleh tidur jam 4 pagi. Tau tidurnya dimana? Di kursi! Jam 5 kami dibangunkan seperti orang gila. Secara tiba-tiba, pintu didobrak dan mereka langsung berteriak-teriak seperti kesetanan. Aku kaget sekaget-kagetnya, sampai-sampai, kakiku kejedot kaki meja dengan kerasnya. Sakit banget! Kami disuruh senam, tapi tetap dengan marah kemudian disuruh sarapan, dan tau gak, sebelum nasi itu dimakan, nasi itu diperas-peras oleh mereka kemudian tangan mereka dimasukkan ke dalam mulut dan sekali lagi dilumurkan pada nasi kami. Bayangkan gimana jijiknya! Dan mereka kembali membentak-bentak menyuruh kami makan sampai habis.

Setelah makan mereka menyuruh kami jalan mengitari lapangan basket sambil berteriak melafalkan huruf vokal. Dan saat itu matahari sudah berada di atas kepala. Panas sekali!

Belum puas menyiksa kami, mereka menyuruh kami bawa uang seribu untuk naik angkot ke kota dan menyuruh kami mengamen. Saat itu diminta pakai kresek merah dan rambut yang dikuncir banyak kayak orang gila. Dan mulailah kami mengamen. Dan kakiku ini mulai terasa sangat sakit. Tapi aku tahan. Sampai akhirnya aku tau kalo kakiku lebam. Warnanya biru keungu-unguan. Selesai mengamen, kami pulang naik angkot dengan uang hasil mengamen. Alhamduliah penyiksaannya hampir selesai.

Sampai di sekolah kami masih disuruh-suruh untuk mencari kaos. Dan aku menemukannya di tempat sampah yang penuh puntung rokok. Bah! Setelah semua dapat, baru dimulai acara penutupan. Dan mereka meminta maaf sampai membuat kami menangis. Sial!

Nah, itu deh pengalamanku. Memang masih lumayan dibandingkan diklat yang laen. Kalo dari ekskul laen, ada yang ditampar-tampar, ada yang disuruh berenang di selokan, eh bukan berenang tuh, tapi berendam, dsb dsb dsb.

Fiuuuh... Jadi jangan kaget kalo di IPDN ada penyiksaan fisik, lah wong di sekolah aja sudah ada juga meskipun jauh bedanya.

Aku berharap deh, cara seperti ini supaya lekas dibuang. Ga ada manfaatnya. Kalo memang ingin memperkuat mental, cari aja kegiatan ato permainan yg menyenangkan tapi ada amanatnya. Seperti perjalanan di alam bebas ato kegiatan yang menantang adrenalin, tanpa ada bentakan dan marahan.

Semoga semua segera dibenahi, karna udah gak zamaaan lageee ospek-ospek macam begitu.. Ups, buat yang pernah jadi senior, peaceee.. ^_^

Minggu, 03 Januari 2010

Sakit kawin

Hari pertama jadi guru les privat Attak menggantikan Bu Yuli yang baru aja menikah dan tentunya dia harus ikut suaminya, jadi aku yang disuruh menggantikannya...Attak masih kelas 4 SD di SD Al-Baitul Amin Jember.

Awalnya harap-harap cemas sih...khawatirnya Attak gak suka aku...tapi di luar dugaan Attak nerima aku dengan baik. Gadis kecil yang cantik dan pintar. Sekolah sampe sore karena memang sekolah full day, dan dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya belajar di rumah, karena itu dia butuh guru les privat. Orang tuanya juga begitu ramah, baik, dan peduli...mereka nggak memandang sebelah mata...

Aku sih pengennya Attak manggil aku mbak aja, tapi dia gak mau, dia mau manggil bu guru aja, udah kebiasaan katanya. oke deh, aku jadi menyebut aku bu guru di depannya akhirnya...

Setelah beberapa hari kami mulai akrab dan selalu bercanda kecuali saat orang tuanya sedang lewat, kami pura-pura belajar, hahaha...tapi jangan pikir aku main-main, aku cuma ingin dia santai aja, kan kasian, sekolah dari pagi sampe sore...Suatu hari dia cerita, entah apa asal mula dia cerita seperti itu, aku lupa.

Attak : Bu, tau gak bu, masa' temenku ada yang bawa kondom...
Aku : Haaa? (aku bener-bener terkejut! anak SD udah tau kondom?!)
Attak : Iya bu, masa' ya dia masang kondomnya di depan temen-temen... (cerita Attak antusias banget)
Aku : (melongo kaya' orang bego)
Attak : Temenku bilang ya, kondomnya itu punya bapaknya...

Astaga! sungguh, aku kaget, aku gak tau aja ternyata pengetahuan anak SD sekarang emang lebih luas, beda sama zamanku dulu, apalagi sama hal-hal seperti itu...ya ampun...Setelah cerita temennya dia cerita lagi.

Attak : Bu, kemaren kata umi, Bu Yuli ke sini?
Aku : Kangen sama kamu ya...?
Attak : Bu Yuli ke sini mau periksa...
Aku : Loh, kenapa? Bu Yuli sakit?
Attak : Katanya umi sakit...
Aku : Sakit apa?
Attak : Sakit kawin!
Aku : Haaa? Apaan tuh sakit kawin?
Attak : Aku juga gak tau.

Waduh! Baru kali ini aku denger ada sakit kawin. aku pengen tau banget sakit apa tuh. jadi sebelum pulang aku sempetkan ngobrol sama Bu Sulis (uminya Attak).

Bu Sulis : Tau suaminya Bu Yuli?
Aku : Nggak tau bu...
Bu Sulis : Kemaren Bu Yuli ke sini sama suaminya, suaminya agak sangar badannya...
Aku : (sangar?) Emang Bu Yuli sakit apa?
Bu Sulis : Sakit kawin
Aku : Sakit kawin tuh gimana sih bu?
Bu Sulis : Kencing darah
Aku : Haaaa? (aku bener-bener kaget. sumpah!) Kok bisa? (karena setauku Bu Yuli gak pernah sakit yang aneh-aneh)
Bu Sulis : Biasalah buat perempuan yang sudah lama nggak berhubungan intim...
Aku : (tambah bingung aku, Bu Yuli kan janda, kok bisa berdarah lagi?)

Dan obrolan selanjutnya kami seperti mencurigai suaminya itu, nah kan, berpikiran buruk sama orang, ada rasa kasian juga sama Bu Yuli...Udah selesai ngobrol, aku pamitan pulang. waktu lewat garasi, di situ ada jendela kamar praktek Pak Joko (abinya Attak). waktu masih nyari-nyari sandal...

Attak : malem minggu libur bu...
Aku : iya libur aja ya...
Dari dalem kamar praktek, pak Joko teriak, "malem minggu libur Tak, Bu guru ada acara..."
Aku : (senyum-senyum aja, lalu aku sekalian pamitan sama Pak Joko, padahal sebenernya aku nggak ada acara apa-apa) Pamit dulu Pak, Assalamualaikum....
Pak Joko : ooooh nggeeeeh monggo-monggooooo, waalaikumsalam...
Aku : (agak tertegun sebentar, soalnya kaget sama teriakan Pak Joko, hahaha...pasiennya jadi ikut ngeliatin aku deh...)

Akhirnya pulang, malem-malem lewat makam, takuuuut....

Senin, 07 Desember 2009

Benarkah Aku Terlalu Dominan?

Hari ini aku memang not in the mood. suntuk. sumpek. kesel. dan lain-lain... ada satu hal yang membuatku seperti ini. aku terlalu dominan, begitu kata temenku... ini berawal dari tugas kelompok yang sebagian besar aku dan salah seorang temanku yang mengerjakan. sedangkan dua yang lainnya tidak ikut berperan hanya menyumbangkan uang untuk biaya penyelesaian tugas...

Oke, aku akui memang aku ingin selalu ambil peran dalam segala hal yang melibatkan diriku. aku ingin aku juga bekerja dalam hal apa pun, salah satunya adalah mengerjakan tugas kelompok. yang sebenarnya aku begitu benci tugas kelompok, aku lebih suka tugas individu...

Apa yang sebenarnya terjadi...

Aku memang orang yang asal bicara. tadi aku bilang pada salah seorang temenku kalo dia gak berperan apa-apa. sungguh, maksud aku hanya bercanda, karena aku memang ikhlas mengerjakan tugas tanpa bantuannya, tapi ternyata dia tersinggung. dia bilang aku yang terlalu dominan dalam hal ini. aku dan salah satu temenku yang ambil peran, berdua mengerjakan tugas. dan dia bilang aku selalu menolak saat dia menawarkan diri untuk turut serta... hey, aku gak butuh tawaran! aku ingin dia bicara dengan tegas kalo dia memang ingin mengerjakan itu bersama-sama. bukan sekedar menawarkan.

Aku baru sadar kalo aku terlalu dominan. tapi apa yang terjadi kalo aku gak dominan? siapa yang akan menjadi leader? yang mengatur ini dan itu? meskipun aku sebenarnya bukan leadernya...

Kalo memang dia merasa aku terlalu dominan, kenapa dia gak mengejar aku? bukankah dia juga bisa menjadi dominan? kenapa aku yang harus mundur beberapa langkah? dan aku terdiam menyimpan kejengkelanku.

Tapi rasa kesal itu gak berlangsung lama, karena sepulang kuliah kami saling bermaafan dan saling bertukar senyum...

Tapi tetap saja perasaan jengkel ini masih ada. mungkin aku memang harus mundur sedikit untuk memberi kesempatan pada temanku yang satu ini...

Sabtu, 05 Desember 2009

Harapan Semu

Usiaku udah 20 tahun sekarang. dan selama itu pun aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran. seperti yang dilakukan temen-temenku, pacaran...
Jangan pernah berpikir aku gak mengingikan seseorang berada disampingku. aku tentu membutuhkannya, tapi aku tau itu gak bisa dipaksakan dan bukan pacaran hanya dengan tujuan supaya punya pacar, lebih dari itu...

aku emang menolak, karena ku pikir aku gak jatuh cinta sama mereka...tapi baru ku tau tentang diriku sendiri kalo aku juga menolak saat seseorang yang kucintai mencintaiku juga...dia adalah lelaki pertama yang membuat aku deg-degan dan membuat panas mukaku. bukankah kita gak akan seperti itu kalo kita gak jatuh cinta padanya?
Aku merasa menjadi putri saat disampingnya, karena dia emang memperlakukan aku seperti putri. memperlakukan aku seperti wanita dewasa. karena dia memang terlalu dewasa buatku, tapi itu justru yang membuat aku jatuh cinta, perlakuannya dan perhatiannya. dia mampu membuat aku merasa bangga terhadap diriku sendiri sampai aku rela berangkat saat panas dan hujan untuk menemuinya...saat berjalan disampingnya...saat minum dengannya...saat dia menatapku...saat gak sengaja kulitnya menyentuh kulitku...aku jadi gelisah...dan malu...
tapi aku tau aku akan merangkai harapan semu jika bersama dia. aku terlalu penuh pertimbangan. dan tentunya aku gak memikirkan diriku sendiri. aku juga memikirkannya dan keluargaku, tentang apa jadinya jika aku bersamanya...lebih banyak sukanya atau dukanya...aku harus berpikir realistis. namun ternyata setelah lama berpisah, cintaku mulai pudar, karena cinta bagaikan pohon, membutuhkan air agar tetap hidup, dan karena perpisahan itu, gak ada lagi air yang bisa menumbuhkan cintaku lagi...

Sabtu, 03 Oktober 2009

Kenangan Di Bali

Jalan-jalan ke bali kemaren yang paling aku suka waktu di pantai kuta sore-sore sambil liat sunset, sayangnya agak mendung, jadi gak begitu bagus, mataharinya ketutup awan, dan sekali-sekali ada pesawat yang mau landing, bagus sekali. yang gak pernah kulupakan adalah suasananya yang begitu nyaman, sambil duduk di pasir dan menatap jauh ke langit, entah pikiranku kemana aja waktu itu, sepertinya ingat semua hal yang pernah terjadi dan mengkhayal sesuatu yang aku inginkan. dan teman-temanku lagi berlarian di pinggir pantai, aku suka melihat itu, melihat raut muka yang penuh kebahagiaan... tapi gambar yang di atas ini bukan gambar yang ku ambil sendiri, ini sih gambar hasil ngopy, hehe...
meskipun sebelum duduk santai aku harus susah-susah dulu cari musholla soalnya belum sholat ashar, tapi sayangnya udah muter-muter aku gak nemu musholla... temenku lalu tanya ke pak satpam di depan hotel, dan si pak satpam bilang musholla adanya di dalem hotel. waduh, aku agak ragu-ragu juga, tapi temenku yang maksa, akhirnya oke deh, dan tentu aja ngelewati para turis luar yang lagi berenang di kolam, huhuhu... gak tau kenapa aku yang ngerasa yang gak enak, soalnya aku pake jilbab dan berjalan di depan mereka...dan sebelum sampai di musholla, kami disapa karyawan hotel yang orang bali asli, dan mereka ramah banget, salut...kembali ke pantai...aku mulai santai setelah sholat, duduk lagi di pantai, dan liat pria bule yang menggandeng wanita asia yang lagi hamil. aku ngeliatnya gimana ya...gak bisa diungkapkan...seorang wanita yang kulitnya gelap (seperti kulitku...hehe...) digandeng pria bule yang kulitnya jauh lebih putih, dan si wanita lagi hamil...aku jadi suka melihatnya, begitu indah dipandang, perpaduan dua ras yang berbeda memang mengagumkan...hmm...jadi teringat seseorang nih, yang kulitnya jauh lebih putih dariku, haha...suatu hari nanti aku ingin kembali lagi ke pantai kuta, dan berharap ada seseorang yang special yang mendampingiku...:)

Selasa, 15 September 2009

Makanan, tokek, sirup, dan kue

Humm..

Kemarin hari yang melelahkan! Ada acara kirim-kirim makanan ke sodara, dan aku yang harus ngantarkan siang-siang hari yang panas, uh!
Terakhir, aku harus ngantarkan ke rumah budhe di Mangli dan sekalian ke rumah bu Indri (ibu dari Dafin, murid les ku). Waktu berangkat dari rumah, cuaca lagi panas-panasnya, jadi aku gak bawa jas hujan dan jaket. Gak taunya, setelah keluar dari rumah budhe, aku santai-santai aja naik motor, eh, tiba-tiba aja hujan turun deras banget... aku basah kuyup... tapi gak langsung berhenti, aku harus nyari tempat untuk berteduh. Dan sampailah aku di sebuah halte. Duhhh, dinginnya... apalagi haltenya bocor, hiks!

Saat itu keadaan halte sepi, cuma ada aku dan seorang bapak yang duduknya agak jauh denganku. Aku sms bu Indri kalo aku datangnya pasti telat. Hmm.. bu Indri ngapain yang kok aku disuruh datang ke rumahnya, padahal udah gak ada les lagi sebabnya udah mau lebaran dan lagian Dafin gak ada di rumah, dia liburan di Probolinggo ke rumah budhenya. Jadi, ada apa ya??? Yang terlintas di pikiranku kemarin tuh kalo aku akan disuruh berhenti aja ngelesi Dafin, haduh... aku takutnya bu Indri gak cocok samam cara aku ngelesi putranya... tapi aku harus siap sama apa pun yang akan terjadi nanti. Semangat!

Dan suara bapak yang ada di sebelahku bikin kaget aku yang lagi mikir. Entah mau ngajak ngobrol atau emang mau tanya beneran. Dia tanya aku pake kartu apa, soalnya dia mau nelpon kok ada gangguan trus, aku jawab aja seadanya... dia terus mendekat dan mengalih pembicaraan. Dia tanya tempat tinggalku, aku jawab aja aku tinggal di Jenggawah (sebuah kecamatan di kota Jember).

Si Bapak : Di Jenggawah ada yang jualan tokek gak?
Aku : Tokek? Wah, gak tau pak!
Tokek? Baru kali ini aku ketemu orang yang nyari tokek. Buat apa coba?! Di rumahku aja kadang-kadang ada suara tokek, aku gak peduli... Ehmm, bapaknya ini lantas cerita tentang bisnisnya nyari tokek buat dikirim ke Belanda katanya. Hihi... aku geli dengernya! Jujur deh, aku gak tau apa manfaat si tokek tuh! Dia bilang si tokek ini buat obat penyakit AIDS. Huah! Dasar diriku ini emang kurang pengetahan!

Si Bapak : Kalo kamu bisa kasih saya tokek sebesar ini (Si Bapak pegang tiang besi di belakangku), kamu saya kasih motor atau uang 10 juta.
Aku : Hahaha... (aku ketawa aja keras-keras)
Si Bapak : Loh?? Gak percaya? Saya beneran nih, ini bulan puasa, gak mungkin bohong.
Aku : (tetep aja ketawa)
Si Bapak : Gini aja, kamu cari aja tokeknya, terus hubungi saya, kalo saya gak beli, itu berarti saya bohong.

Ahh, bapak ini. Ngomongnya lancar banget, logatnya lucu, dan suaranya kasar. Orangnya sederhana, kulitnya hitam, dan udah agak tua. Dia cerita juga asal usulnya. Dia bilang dia orang NTT.

Aku : Lah, kok sekarang tinggal di Jember?
Si Bapak : (dengan entengnya jawab...) bisnis tokek!

Setelah ngobrol masalah tokek, dia kembali cerita tentang dirinya. Dia bilang dia itu seorang muallaf. Dulunya dia itu seorang pendeta. Dan sayangnya aku gak tanya apa alasan dia jadi muallaf. Dan aku salut, dia bisa baca sebuah ayat Al Quran di depanku. Jempol deh!

Si Bapak : Sekarang gini deh, kamu bisnis sama saya, kamu minta tolong sama ayahmu dan masmu... udah punya pacar kan?
Aku : Belum.
Si Bapak : (dengan mimik gak percaya) masa sih...?
Aku : beneran.
Si Bapak : Minta sama Alloh, baca Sholawat, puasa tujuh hari, biar dapat jodoh...
Aku : (cuma senyum-senyum aja)
Si Bapak : Cari suami nanti yang baik, jangan cari yang suka mukul, cari yang baik dan penyayang, yang suka membelai, jangan waktu malam hari aja membelainya...
Aku : Hahaha...
Hujan mulai reda, aku pamitan aja setelah kami bertukar nomor telepon. Dan di sepanjang jalan aku senyum-senyum aja inget si bapak tadi. Sebenarnya masih gerimis. Tapi aku harus tetep jalan, kalo gak aku bisa kemalaman. Gak sadar tadi ngobrol sama Pak Yunus (nama si bapak) hampir dua jam, dari jam tiga sampe lima sore.
Aku gak langsung ke rumah bu Indri, tapi ke masjid kampus dulu buat sholat ashar. Eh, ternyata di masjid ada acara pengajian kecil yang anggotanya mbak-mbak pengurus masjid. Duh, malunya. Sekarang udah jam lima lebih tapi baru sholat ashar??? Tapi gimana lagi donk? Aku kan kehujanan!
Setelah sholat aku baru ke Bu indri. Ehmm... ternyata bu Indri nyambut aku dengan baik sekali seperti biasanya, Alhamdulilah... hehe... Kami ngobrol sebentar trus bu Indri kasih aku gaji aku dan sebotol sirup serta kue hari raya. Waahh... aku kaget, gak nyangka banget akan dapat ini semua... Hem.. Bu Indri baik banget sih, padahal aku ngelesi putranya belum ada dua bulan. Dan aku ngucapkan terima kasih berulang-ulang, bukan karna dikasih sirup dan kue (kalo itu sih ibuku juga udah beli), tapi aku seneng karna perhatiannya...

Akhirnya aku pulang (masih gerimis) dengan hati yang sueeneeng...

Senin, 07 September 2009

Memburu Novel Mira W

Tahun 90-an akhir adalah tahun-tahun aku tergila-gila sinetron Indonesia. Waktu itu menurutku, sinetron Indonesia masih bagus, alami, menghibur, dan menyuguhkan cerita lembut yang jauh dari kesadisan atau kekejaman yang sering ditampilkan di sinetron Indonesia zaman sekarang. Saat nonton sinetron-sinetron itulah, aku sering melihat sebuah cover novel yang ditampilkan saat sinetron akan dimulai. Saat itulah pertama kali aku tau ada seorang penulis novel yang bernama Mira W.
Dan keinginanku membaca novel Mira W. bisa terealisasikan saat aku jadi siswa baru SMA. Mulailah aku menulusuri perpustakaan baruku. Dan kutemukan tiga buah novel Mira W. Wuaah..senengnya!
Judulnya:
  1. Bilur-bilur penyesalan
  2. Kuduslah Cintamu, Dokter
  3. Relung-relung Gelap Hati Sisi
Yang paling membekas di benakku adalah saat aku membaca Kuduslah Cintamu, Dokter. Novel ini bener-bener bagus! Aku seperti bias merasakan perasaan Mesi, tokoh utama dalam cerita novel itu, yang mempunyai rasa cinta untuk dr. Stefan namun harus dipendamnya sekian lama karena dr. Stefan telah beristri, dan dia harus rela menikah dengan Ari, lelaki yang gak dicintainya, untuk menutupi gosip miring tentang hubungannya dengan dr. Stefan.
Aku jadi semakin penasaran dengan novel Mira W. yang lain. Mulailah aku mencari tau di mana tempat-tempat persewaan novel di jember. Aku tanya ke teman-temanku. Dan telah kukantongi dua alamat persewaan novel.
Pulang sekolah langsung kulajukan sepeda motorku ke tempat pertama. Tempatnya jelek! Tapi yang terpenting adalah isinya. Aku menemukan banyak novel di sini. Aku cari…cari lagi…cari terus… Nah lho! Kok gak ada?! Ehm, mungkin di belakang sana.
Horee!! Ini dia novel Mira W. Banyak banget! Tapi kok… Di sini ternyata adanya novel-novel Mira W. yang terbitan awal-awal, yang covernya bukan gambar bunga melainkan gambar orang. Wuih, keliatan banget lawasnya! Tapi gak apa-apa yang penting isinya. Dan karna novel-novel ini adalah novel lawas yang sudah ditaruh di rak paling belakang, harga sewanya jadi murah juga…sekitar Rp 1.000,00 per novel. Huah…tambah seneng!
Selama beberapa hari aku terus menyewa di tempat itu sampai gak kutemukan lagi novel yang belum ku baca. Setelah ku lahap habis semua novel Mira W. di tempat itu, aku mulai menelusuri tempat persewaan kedua. Dan betapa kagetnya aku…di sana berjajar-jajar novel Mira W. edisi terbaru dengan cover bunganya. Tapi harganya ternyata sesuai dengan kondisi novelnya. Harga sewanya mulai dari Rp 3.000,00 sampai Rp 5.000,00. Hiks!
Tempat ketiga adalah perpustakaan daerah. Aku harus jadi anggota perpus dulu sebelum bisa pinjam. Setelah itu aku baru pinjam dua novel setiap minggunya.
Alamat ketiga tempat novel Mira W. bersarang:
  1. Persewaan novel dan komik yang aku gak tau apa namanya, di Jalan Hayam Wuruk Jember, nomer berapa aku gak tau juga, tapi yang pasti tempat itu ada di depan post polisi yang bersebelahan dengan Hotel Bandung Permai Jember.
  2. Persewaan TOP, di Jalan Jawa 7 Jember.
  3. Perpustakaan Daerah Jember, di Jalan Letdjen Panjaitan No.49 Jember.