Jumat, 19 Oktober 2018

MERAH JINGGA LANGIT AMSTERDAM



Ini novel karya Sandra D. yang terbit tahun 2014, penerbit GPU. Sudah lama punya novel ini tapi baru hari ini pengin mereview.

Semula kania menduga bos barunya pria separuh baya, ubanan, dan berperut buncit. Tapi saat pertama kali bertemu, Kania terperangah mendapati pria dengan wajah indo yang memikat, hidung mancung, sorot mata tajam dinaungi alis yang kelam.

"Adrian Hanson," katanya sambil menjabat tangan Kania.

Kania berusaha keras mengabaikan pesona pria itu. Apa kata orang jika sang asisten berani-berani menyukai sang presiden direktur? Lagi pula, laki-laki kan selalu bikin sakit hati! Hingga kecelakaan yang menimpa Adrian Hanson memaksa Kania terlibat sandiwara yang dirancang pria itu dan merobohkan sekat formalitas di antara mereka.

Ketika mendapat kesempatan menghadiri konferensi di Paris sekaligus menemui Adrian untuk mengurus dokumen perusahaan, Kania terbelit dilema: mengizinkan Adrian mengetahui perasaannya atau membiarkan langit merah jingga di atas kota Amsterdam menelan rahasia cinta yang ia simpan rapat-rapat.



Ini kisah cinta yang lembut dan perlahan dalam menggapainya. Kania selalu menahan perasaan dan Adrian tidak segera menyatakan cinta.

Ini kisah cinta yang manis. Adegan-adegannya membuat saya tersenyum saat membacanya dan ada pula beberapa kalimat yang perlu saya ulang saat membacanya..

"Aku sudah berulang kali bilang tidak, Adrian. Di restoran waktu kita makan siang, lalu kemarin malam, aku juga sudah bilang tidak. Aku tidak memercayai apa yang kamu inginkan dariku, dan sekarang pun tetap tidak percaya. Jadi kenapa kamu belum juga menghentikan semua ini? Kamu ingin bermain-main dengan perasaanku, kan? Ingin mempermainkan aku saja, kan? Kemudian ketika kamu tahu aku jatuh cinta padamu, kamu akan meninggalkanku begitu saja. Iya, kan?"

"Kamu mau pertanyaan mana yang kujawab lebih dulu?"

"Kamu sengaja mencari kesempatan untuk menciumku?"

"Tidak. Itu hanya spontanitas. Anggaplah sebagai hadiah atas kemenanganku di pertandingan kecil kita tadi."

Jawaban Adrian bikin jengkel kan? 😄😄


Selasa, 02 Oktober 2018

Novel Sayap Mungil Lolita

Ini penampakan novel pertamaku 'Sayap Mungil Lolita', pemenang kedua lomba novel remaja yang diadakan oleh Lumiere Publishing.


Berawal dari mimpi untuk menjadi penulis dan menghasilkan banyak novel, aku awalnya tidak tahu harus memulai dari mana. Bersyukur akhirnya menemukan sebuah grup penulisan di facebook, yang pada akhirnya membuatku berani untuk menulis cerita yang sempat mangkrak di laptop. Ternyata respon pembaca begitu antusias dan hal itu membuatku lebih bersemangat untuk menghasilkan cerita baru.

Ketertarikan pembaca pada ceritaku pada akhirnya membuat aku percaya diri untuk mengikuti lomba cerpen di beberapa penerbit kecil. Dalam satu tahun Alhamdulillah aku bisa menjadi kontributor dalam lima lomba. Buku antologi cerpen yang tercetak selalu aku beli sebagai koleksi bahwa di dalamnya ada datu cerpenku.

Setelah yakin dengan kemampuan menulisku, aku membelokkan setir ke lomba novel. Lomba novel pertama yang aku ikuti adalah lomba novel teenlit di penerbit twigora. Sayangnya aku tidak lolos. Tapi hal itu tidak membuatku patah semangat. Lomba novel kedua yang aku ikuti adalah lomba novel dengan tema bebas yang diadakan oleh ellunar publishing. Sayangnya lagi-lagi aku tidak lolos.

Pengalaman gagal untuk kedua kali dalam perlombaan novel itu membuat aku instrokpeksi diri, apa yang salah dengan tulisanku?

Pada kesempatan itu juga aku memulai dengan hati-hati. Dimulai dengan membuat premis yang fokus terhadap cerita yang akan kubuat dan membuat outline yang rapi. Rapi dalam arti dimulai dari pengenalan tokoh dan masalah, klimaks, lalu penyelesaian. Dan Taraaa... akhirnya namaku muncul sebagai pemenang juara kedua dengan judul Sayap Mungil Lolita.

Puji syukur aku ucapkan kepada Allah karena telah membuka jalanku menuju dunia penulisan yang pernah aku impikan. Apalagi setelah itu untuk membantu mempercantik naskah alias mengedit dan merevisi, aku berkenalan denga editor yang sangat baik hati bernama Nurul Cahaya. Aku ucapkan banyak terima kasih kepada Mbak Aya atas segala bantuannya sehingga novelku bisa diterbitkan pada bulan Agustus 2018.



 

Jumat, 09 November 2012

Perdarahan 1

Tahun ini menjadi tahun membahagiakan sekaligus mengerikan dalam hidupku. aku tak pernah membayangkan sebelumnya jika aku akan diberi cobaan seberat dan semenakutkan ini. dulu aku selalu membayangkan bahwa momen kelahiran adalah suatu momen yang mengharu biru, tak akan pernah bisa diuraikan dengan kata-kata kebahagiaan yang melingkupi setiap wanita.

Tepat pada tanggal 20 Agustus 2012, seperti dugaan bidan dan dokter tempat di mana aku memerikasakan kandunganku, pada tanggal itulah prediksi kelahiran bayiku. rasa sakit yang timbul di pinggang bagian belakang membuatku tak bisa tidur malam selama tiga hari. karena setiap kali kontraksi itu datang, mataku akan terbuka seketika dan tak pernah bisa terlelap. dan kontraksi itu bukan datang lima menit sekali seperti yang orang lain rasakan ketika masih pembukaan satu. rasanya saat itu, hanya beberapa kali tarikan napas, kontraksi kembali hadir sampai membuatku tak bisa melakukan apa-apa karena kaki menjadi lemas.

Bertepatan dengan hari raya kedua idul fitri, aku dibawa ke rumah praktek bidan yang ternyata bidan tersebut sedang bersilaturahmi kepada saudaranya sehingga aku harus mencari bidan lain. sayangnya karena bertepatan dengan hari besar, lagi-lagi bidan yang kedua juga tak ada. pilihan terakhir akhirnya aku dibawa ke puskesmas yang entahlah kenapa sangan sepi sekali. hanya ada seorang wanita dan keluarganya yang baru saja lahiran dan hendak pulang.

Bidan yang bertugas hanya satu orang yang kebetulan sedang hamil juga. aku tak pernah membayangkan akan melahirkan di puskesmas karena pandangan orang tentang pelayanan di puskesmas yang masih jauh dari kata baik. tapi aku tak punya pilihan lain selain mengaduh kepada ibu dan suami. sedangkan bidannya tidak melakukan apa-apa dan tidak memberi anjuran apa-apa supaya pembukaan menjadi lebih cepat. bidan tersebut hanya tidur sepanjang hari.

Ini adalah proses kelahiran pertama bagiku. katakanlah aku masih belum berpengalaman dan tak tahu apa yang harus kulakukan. hingga menjelang sore tak ada perubahan apa pun, aku meminta dikirim paksa ke rumah sakit. keluargaku mengiyakan saja karena sudah tak tahan melihat penderitaanku. lalu mulailah sebuah drama yang jika mengingatnya aku ingin tersenyum miris.

Aku meminta dikirim ke rumah sakit A dengan dokter B. si bidan kemudian menelepon tapi selalu keluar dari kamarku. kemudian dia masuk lagi dan bilang kalau dokter B sedang piket di rumah sakit C dan tidak bisa dipanggil. lalu aku memilih dokter D tetap di rumah sakit A. lagi-lagi bidan itu keluar dari kamar (baru aku sadari setelah beberapa bulan setelahnya kalau bidan itu hanya pura-pura menelepon). setelah kembali, dia bilang kalau dokter D sedang ke luar negeri. aku dan keluargaku pun bingung.

Dalam kebingungan kami, bidan mengusulkan untuk membawaku ke rumah sakit E (pada akhirnya aku tahu kalau dia bekerja sama dengan rumah sakit E, mungkin dia akan dapat komisi kalau membawa pasien kesana. entahlah). aku pun menurut saja karena tidak tahu harus melakukan apa.

Aku tak akan menceritakan lagi seperti apa perjuanganku melahirkan hingga harus berbaring di atas meja operasi, karena sudah pernah kuceritakan di post sebelumnya. kali ini aku akan bercerita tentang pendarahan tiba-tiba yang menimpaku setelah sekitar dua puluh hari pasca operasi.

Tepatnya pukul tiga sore, darah mengucur deras seakan tak berhenti sampai membuat tubuhku lemas. aku menghabiskan banyak air di kamar mandi karena darah yang terus mengalir seperti kran air yang dibuka. tak ada rasa sakit sama sekali yang kurasakan tapi ketakutan dan kecemasan tentang alasana mengapa tubuhku seperti ini yang membuatku tak kuasa untuk keluar dari kamar mandi.

Setelah aku menceritakan apa yang baru saja terjadi, keluarga menyuruhku ke bidan dan bidan mengatakan bahwa itu suatu yang langka. jika terulang kembali sebaiknya aku harus ke rumah sakit. aku sedikit tenang karena esoknya tak ada darah lagi yang keluar. tapi satu minggu kemudian, darah kembali mengucur deras dan membuatku lemas karena tubuhku hampir kekurangan darah. seperti terjadi musibah yang sangat besar, aku diangkat oleh beberapa orang dan dibawa ke rumah sakit E, tempat di mana aku dioperasi. dalam hati aku benar-benar pasrah dengan apa yang akan terjadi. jika memang usiaku hampir saja usai, aku akan menerima dengan pasrah. tapi Allah masih memberiku kesempatan untuk hidup.

Di rumah sakit, bukannya langsung ditangani, aku malah dimarahi karena telat untuk kontrol pasca operasi. aku bukan berniat untuk tidak kontrol, tapi jarak rumah ke rumah sakit itu jauh sekali sedangkan keluargaku tidak punya mobil. kami harus menyewa mobil sebelumnya. aku dan ibuku hanya diam saja ketika disindir ini dan itu, karena kami membutuhkan pertolongan. meskipun aku datang membayar sendiri tanpa asuransi sedikitpun entah kenapa mereka memperlakukan kami seperti itu. bolehlah mereka menghina kami kalau memang kami dibayari oleh pemerintah misalnya. ini kami bayar sendiri loh!

Akhirnya aku harus ditransfusi darah sebanyak empat kantong. segala macam obat dimasukkan ke dalam tubuhku melalui infus dan dubur, untuk menghentikan perdarahanku. obat-obatan yang mereka jejalkan memang tokcer. perdarahan berhenti seketika. dan tubuhku mulai merasa baik setelah mendapat transfusi darah.

Tiga hari aku opname di rumah sakit dengan biaya sendiri sekitar tiga juta rupiah. aku pikir aku akan sembuh dan tak akan terulang lagi kejadian kamar mandi berdarah. ternyata aku salah. ada kejadian lain yang tak kalah mengerikan. nantikan kisahku selanjutnya dengan judul Perdarahan 2.

Potret Pengajaran di Sekolah

Beberapa hari yang lalu, adikku pulang terlalu sore. ternyata nasih ada latihan KIR, padahal adikku ga pernah ikut. tapi suatu hari ada guru yang masuk kelasnya dan mencari namanya lantas diminta untuk ikut KIR dan hanya adikku saja yang diambil dari kelasnya. waktu aku dan adikku bingung kenapa hanya nama adikku yang dicari. setelah diingat-ingat, ternyata adikku dapat nilai 100 untuk pelajaran matematika saat ujian tengah semester. membanggakan kamu nak! tapi setelah sampai rumah waktu itu, dia menunjukkan kepalanya yang katanya rambutnya habis dipetal sedikit oleh wali kelasnya. bukan hanya itu, gurunya juga menendang kakinya. tapi yang diperlakukan seperti itu bukan hanya adikku tapi seluruh siswa di kelasnya. setelah aku tanya ternyata pada saat pelajaran agama yang gurunya perempuan, siswa-siswanya pada ramai dan celometan. si ibu guru lantas marah dan nangis-nangis sambil melaporkan ke wali kelasnya. dan tahulah kemudian wali kelasnya marah, mungkin karna malu pada guru agama itu. dan sejenak aku marah mendengar cerita adikku, karna yang ramai hanya beberapa orang tapi yang kena batunya seluruh siswa, gak adil kan! lantas aku berpikir, gimana muridnya gak akan tawuran kalau gurunya mengajarkan kekerasan seperti ini?! adikku ini sekolah di salah satu SMK negeri di kotaku. SMK ini dulunya memang terkenal dengan siswanya yang hampir 90% adalah laki-laki. hanya beberapa aja yang perempuan. karna memang jurusan yang tersedia lebih mengarah kepada anak laki-laki. dan sebelum kejadian itu, sudah terdengar kalau SMK ini pernah hampi tawuran dengan salah satu SMA hanya karna gara-gara masalah pacar. sampai-sampai masuk koran segala, dan sekolahnya harus dijaga oleh beberapa polisi. hmmm....

kembali lagi kepermasalahan semula. semua wali murid pasti gak setuju donk dengan kekerasan. jelas gak setuju lah, nah gimana kalau kekerasan itu menimpa anaknya sendiri. apalagi yang paling mengherankan, esok harinya si wali kelas membuat surat pernyataan jika siswa satu kelas mengulangi hal tersebut maka tidak akan naik kelas. dan surat itu akan ditandatangani oleh wali kelas, guru agama, dan guru BK. untungnya guru BK menolak. kalau sampai tidak menolak, waduh, mending pindah sekolah aja deh dek! aku masih heran kenapa si bu guru agama itu sampai menangis di depan siswa. kelihatan gak ada wibawanya kan?! seharusnya dari awal harus sudah mengerti siapa yang akan dididiknya. kalau memang satu kelas isinya anak laki-laki semua, seharusnya harus sudah siap dengan segala trik cara mendidik dan mengajar. kalau mengatasi kelas yang ramai aja menangis apalagi masalah yang lebih berat. saya pikir karna saya juga seorang guru, seorang guru bukan hanya pintar mentransfer ilmunya ke kepala siswa tapi juga harus berusaha belajar cara menangani permasalahan siswa. dan pak guru wali kelas, kenapa harus pake kekerasan, sampai main tendang-tendangan. sadar gak sih kalau menendang seseorang berarti mengajari orang tersebut untuk menendang orang lain?!

Rabu, 31 Oktober 2012

Cerita Kelahiran Putriku

Hampir 2 tahun rasanya aku gak posting apa pun di blog ini. Sebenarnya banyak sekali cerita yang ingin aku tuangkan... Senangnya hatiku, aku kini memiliki seorang putri kecil yang lucu. Alhamdulilah atas karunia Allah yang memberiku kesempatan untuk memiliki seorang anak yang kuberi nama Mahira Danish Kurnia. Mahira berarti mahir atau cakap. Danish berarti pengetahuan atau bijak. Jadi aku berharap anakku nanti bisa menjadi wanita yang pandai dalam pengetahuan. Bukan hanya pengetahuan sosial tapi juga agama. Kurnia aku ambil dari nama belakang suamiku. Hari rabu tanggal 26 September yang lalu, putri kecilku harus dipangkas rambutnya sampai gundul, tepat satu bulan umurnya. Senang melihat anakku tumbuh sehat. Sekali minum saja sekarang sudah bisa menghabiskan susu 60 ml. Beratnya pun sudah 4 kg lebih. Kalau nggendong cukup lama udah terasa bahu seperti mau copot, padahal orang-orang bilang aku gak boleh angkat berat dulu karna habis operasi caesar.

Operasi ... Ini salah satu peristiwa menegangkan sekaligus membahagiakan dalam hidupku. Menegangkan karna sesungguhnya aku ragu dan takut, membahagiakan karna sebentar lagi aku akan bertemu dengan putri tercinta. Berawal pada tanggal 12 Agustus 2012, aku mengeluarkan bercak darah, aku pikir aku akan melahirkan, padahal tanggal perkiraan kelahiran 20 Agustus 2012. Tapi setelah konsultasi dengan bidan, ternyata belum waktunya. Pada bulan itu bertepatan dengan bulan ramadhan, setelah 20 hari sebelumnya aku puasa, akhirnya aku gak bisa puasa lagi. Pada hari Jumat 17 Agustus aku mulai merasakan sakit yang teratur, tapi bukan mulas di perut, tepatnya di pinggang. Semalaman aku gak bisa tidur karna sakit, tapi aku bisa tahan. Sampai hari minggu pagi, semua anggota keluarga merayakan hari idul fitri, aku pun masih sempat silaturahmi sama suamiku, tapi ya Tuhan.. pinggang tambah sakit sampai jalan aja susah. Apalagi semalaman aku gak bisa tidur lagi, dan masih berlanjut ke malam selanjutnya aku pun gak bisa tidur. Kalau dihitung, aku udah 3 hari 3 malam gak tidur. Senin pagi tanggal 20 Agustus, ini tanggal perkiraan aku lahiran, jam 6 pagi aku dibawa ibuku ke bidan. Di perjalanan aku pikir udah bukaan 5, eh ternyata setelah diperiksa masih buka 1. Ya Allah... sebegini lamanya dan sakitnya ternyata masih buka 1. Akhirnya pulang deh, dan di rumah, sakitnya tambah bukan main rasanya, tapi yang aku herankan kenapa yang sakit banget pinggang sih, kalau perutnya sih sakitnya biasa aja, aku sama sekali gak mengeluhkan soal perut. Ibu, nenek, budhe, dan suamiku bergantian mijitin pinggangku, eh akunya udah gak tahan akhirnya nangis deh. Jam 10 aku di bawa ke puskesmas karna bidannya lagi pergi, maklumlah hari raya... di puskesmas ada satu bidan yang jaga dan langsung diperiksa baru buka 2, aku pikir kok lama banget ya bukanya. Bidannya bilang ntar sore diperiksa lagi. Aku sih udah gak mau pulang, cape bolak-balik terus apalagi ini pinggang udah ajubilah sakitnya. Sekitar jam 4 sore aku diperiksa lagi dan tau apa hasilnya... tetep buka 2! Ya Allah, selama 6 jam macet di bukaan 2. Aku pikir udah buka 8! Akhirnya aku udah lemes, kami memutuskan operasi.

Mulailah bidan puskesmas menghubungi rumah sakit yang biasa aku datangi untuk USG, tapi karna hari itu hari raya, dua dokternya gak ada! Aku dan keluargaku jadi bingung. Kemudian bidannya usul ke rumah sakit lain, satu-satunya rumah sakit bersalin yang ada di kotaku. Setelah dihubungi ternyata dokternya pun gak ada, tapi nanti malam baru pulang. Ya Allah! Aku masih aja nangis-nangis karna sakit karna bingung pula. Karna gak punya pilihan lain, terpaksa aku pilih rumah sakit yang kedua itu. Sampai di rumah sakit, aku diperiksa dalam lagi, sakitnya ya... ketika diperiksa ya tetep aja buka 2. Padahal dari awal keluarga udah minta operasi, tapi karna aku bisa lahiran normal, akhirnya melalui telpon, dokter menyarankan supaya aku diinduksi atau bahasa umumnya dipacu atau dirangsang. Dan kalian tau gimana rasanya dipacu? Astaga sakitnya booo... dan yang aku herankan dari awal kenapa yang sakit terus aja di bagian pinggang? Kalau bagian perut aku masih bisa tahan. Ibuku terus aja mijitin pinggangku, dan suamiku mulai ngurusin berkas operasi sama bidannya. Setelah cukup lama dipacu, aku diperiksa lagi dan tahu buka berapa... masih buka 4! Akhirnya mulailah aku dipersiapkan untuk operasi pukul 10 malam. Saat masuk ruang operasi aku masih merasakan sakit yang amat sangat, sampai akhirnya, dokter anestesi menyuntikkan obat bius di punggungku, aku merasa hangat dan hilanglah sakit di pinggangku itu... sampai tirai kecil dipasang di atas dadaku, aku belum tau muka dokter kandungan yang akan mengeluarkan bayiku itu. Tau-tau ada perawat yang menggendong bayi berjalan di sampingku lalu masuk ke suatu ruangan, dan bayi itu menangis. Itukah anakku? Aku tersenyum, selamat datang sayang...

Operasi sudah usai, aku dibawa ke ruang pemulihan, dan gak nyangka ketemu teman sekolahku dulu yang sekarang kerja sebagai bidan di RS itu. Rasa dingin belum juga hilang dari ruang operasi sampai di ruang ini. Hausnyaaa bukan main, tapi aku baru diberi minum pukul 11 esok siang. Hari selasa sore sekitar pukul 4, aku dipindah ke kamar perawatan disambut oleh isak tangis ibuku, di sana udah ada ayah, suami, dan ibu mertuaku. Setelah ngobrol sebentar, bayiku diberikan padaku. Ya Allah... lucunya! Alhamdulilah, terima kasih ya Allah telah menganugerahkan putri kecil yang manis...  beratnya 3400 gram dengan panjang 53 cm, cukup gede juga kamu nak! Pipinya tembem dan bibir atasnya itu lho, persis deh kayak bapaknya, hehe. 4 hari mendekam di rumah sakit, hari kamis siang aku udah boleh pulang dan disambut meriah sama nenek di rumah. Malem harinya, saudara-saudaraku banyak yang dateng. Dan entahlah... ketika ketemu sama banyak orang kenapa aku jadi malu karna gak bisa lahiran normal, tapi ya udahlah semua udah terjadi, mungkin emang udah takdirku harus begini. Tapi aku berharap suatu hari nanti ketika Allah masih memberiku kesempatan untuk memiliki putra lagi, aku ingin bisa lahiran normal, istilahnya VBAC (Vaginal Birth After Caesar). Rasanya sampai sekarang belum puas kalau belum bisa lahiran normal. Mungkin buat orang lain, caesar adalah hal biasa, namun bagiku tetep aja aku merasa aneh dan menyisakan perasaan ganjil yang membekas dan belum hilang sampai sekarang. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang mudah lahiran normal. Baru 3 jam dari bukaan 1 udah lengkap, cepet banget prosesnya. Sedangkan aku kesakitan 3 hari dan 12 jam lebih macet di bukaan 2. Terkadang aku menyesal kenapa aku kurang bersabar dan tidak berjuang lagi untuk lahir normal. Tapi kalau mengingat lamanya sakit yang kurasa, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi... Ampuni aku ya Allah...

Dan terjadilah peristiwa mengerikan di kamar mandi dengan lantai berlumur darah pada hari minggu, satu minggu sebelum acara satu bulanan putriku...

Sabtu, 25 Desember 2010

Pengalaman Buruk

Heran, kenapa aku enggan banget kumpul sama orang yang sok galak di depan orang lain? Nah, orang macam begini sering aku jumpai saat acara diklat di sekolah dulu. Pengalaman pertama saat diklat PMR di SMP. Heraaan banget! Kenapa sih orang-orang yang mengaku sebagai senior itu berlagak kayak preman?!

Duh, aku kenapa jadi sewot begini ya.. Hmm.. Tapi tapi tapi.. Hal itu menjengkelkan, bukan? Gimana nggak? Tujuan sama pelaksanaannya beda banget. Coba kita cerna dari namanya, DIKLAT, kependekan dari pendidikan dan latihan. Yang pertama, pendidikan itu berupa pemberian materi yang terkait. Yang kedua, latihan yang berupa kegiatan yang sudah dipelajari. Misal kalo PMR, ada latihan baris-berbaris dan P3K. Nah, kalo ditanya, kenapa senior harus berlagak judes saat bertanya, mereka menjawab kalo itu latihan mental supaya tegar. Eh, btw, emang begitu ya caranya supaya mental kita terus mengembang ga melempem kayak kerupuk yang kena air? Ckckck.. Ada2 aja!

Aku pikir itu bukan cara yang tepat. Aku beranggapan itu hanya cara agar para senior mendapat hormat. Bagaimana bisa cara tersebut memperkuat mental? Bukankah malah memperkerut mental? Siapa sih yg merasa nyaman saat dimarahi apalagi sama kakak kelas yang sok galak!

Oke akan aku beberkan sikap para senior. Mereka bertanya dengan galak dan menyuruh pergi tanpa kasihan. Mereka berdiri dengan gagahnya saat aku merangkak di rumput. Mereka memarah-marahi aku saat aku ga bisa menjawab salam. Mereka menyuruh mencari kain biru di kuburan. Ampun deh, jengkel banget! Dan yang lebih menjengkelkan lagi, mereka tuh teman seangkatanku. Kebayang kan gimana sebalnya!

Pengalaman kedua saat aku ikut diklat teater di SMA. Mereka ngasih tugas untuk minta tanda tangan kepada para senior satu persatu. Dan kesalnya, tiap minta tanda tangan pasti dimarah-marahi dulu dan disuruh-suruh seperti babu. Kami para yunior baru boleh tidur jam 4 pagi. Tau tidurnya dimana? Di kursi! Jam 5 kami dibangunkan seperti orang gila. Secara tiba-tiba, pintu didobrak dan mereka langsung berteriak-teriak seperti kesetanan. Aku kaget sekaget-kagetnya, sampai-sampai, kakiku kejedot kaki meja dengan kerasnya. Sakit banget! Kami disuruh senam, tapi tetap dengan marah kemudian disuruh sarapan, dan tau gak, sebelum nasi itu dimakan, nasi itu diperas-peras oleh mereka kemudian tangan mereka dimasukkan ke dalam mulut dan sekali lagi dilumurkan pada nasi kami. Bayangkan gimana jijiknya! Dan mereka kembali membentak-bentak menyuruh kami makan sampai habis.

Setelah makan mereka menyuruh kami jalan mengitari lapangan basket sambil berteriak melafalkan huruf vokal. Dan saat itu matahari sudah berada di atas kepala. Panas sekali!

Belum puas menyiksa kami, mereka menyuruh kami bawa uang seribu untuk naik angkot ke kota dan menyuruh kami mengamen. Saat itu diminta pakai kresek merah dan rambut yang dikuncir banyak kayak orang gila. Dan mulailah kami mengamen. Dan kakiku ini mulai terasa sangat sakit. Tapi aku tahan. Sampai akhirnya aku tau kalo kakiku lebam. Warnanya biru keungu-unguan. Selesai mengamen, kami pulang naik angkot dengan uang hasil mengamen. Alhamduliah penyiksaannya hampir selesai.

Sampai di sekolah kami masih disuruh-suruh untuk mencari kaos. Dan aku menemukannya di tempat sampah yang penuh puntung rokok. Bah! Setelah semua dapat, baru dimulai acara penutupan. Dan mereka meminta maaf sampai membuat kami menangis. Sial!

Nah, itu deh pengalamanku. Memang masih lumayan dibandingkan diklat yang laen. Kalo dari ekskul laen, ada yang ditampar-tampar, ada yang disuruh berenang di selokan, eh bukan berenang tuh, tapi berendam, dsb dsb dsb.

Fiuuuh... Jadi jangan kaget kalo di IPDN ada penyiksaan fisik, lah wong di sekolah aja sudah ada juga meskipun jauh bedanya.

Aku berharap deh, cara seperti ini supaya lekas dibuang. Ga ada manfaatnya. Kalo memang ingin memperkuat mental, cari aja kegiatan ato permainan yg menyenangkan tapi ada amanatnya. Seperti perjalanan di alam bebas ato kegiatan yang menantang adrenalin, tanpa ada bentakan dan marahan.

Semoga semua segera dibenahi, karna udah gak zamaaan lageee ospek-ospek macam begitu.. Ups, buat yang pernah jadi senior, peaceee.. ^_^

Kamis, 16 Desember 2010

Chrysanthemums

Ada yang tau bunga krisan atau seruni? Emm, aku suka sekali bunga seruni.. harumnya, wangi alam, enak sekali dihirup, mantap, hahaha....

Tapi sayangnya aku ga punya satupun bunga tersebut di rumah, kayaknya harus hunting ke rumah tetnagga nih, hahaha.













































































Hmm... cantik kan...?!
Suatu hari nanti aku pengen buat taman seruni...